Ketika kebutuhan komputasi untuk kecerdasan buatan (AI) terus meningkat, kebutuhan energi yang dibutuhkan pusat data juga ikut melonjak. Di tengah tantangan tersebut, China memperkenalkan sebuah inovasi yang cukup mengejutkan: membangun pusat data bawah laut yang ditenagai energi angin lepas pantai.
Proyek ini diklaim sebagai yang pertama di dunia yang menggabungkan teknologi data center bawah laut dengan sumber energi angin sebagai pemasok listrik utamanya. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi salah satu langkah ambisius China dalam menghadapi lonjakan kebutuhan komputasi AI sekaligus mengurangi konsumsi energi dan dampak lingkungan dari infrastruktur digital.
Mengapa Data Center Menjadi Tantangan Besar?
Banyak orang mengenal AI hanya dari aplikasi seperti chatbot, generator gambar, atau mesin pencari pintar. Namun di balik semua layanan tersebut terdapat ribuan server yang bekerja tanpa henti di pusat data.
Masalahnya, data center membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar. Tidak hanya untuk menjalankan server, tetapi juga untuk menjaga suhu perangkat tetap stabil agar tidak mengalami overheating.
Pada fasilitas konvensional, sistem pendingin dapat menghabiskan seperempat hingga hampir setengah dari total konsumsi energi sebuah data center. Semakin tinggi kebutuhan komputasi AI, semakin besar pula biaya listrik dan pendinginan yang harus ditanggung.
Inilah alasan mengapa banyak negara dan perusahaan teknologi mulai mencari pendekatan baru yang lebih efisien.
Data Center di Bawah Laut, Bagaimana Cara Kerjanya?
Alih-alih membangun gedung besar di daratan, China menempatkan pusat data tersebut di bawah permukaan laut dekat kawasan Lingang, Shanghai.
Lokasinya berada sekitar 10 kilometer dari garis pantai dan terendam pada kedalaman sekitar 10 meter. Beberapa laporan teknis bahkan menyebut modul server ditempatkan lebih dalam pada kapsul khusus yang dirancang tahan tekanan laut.

Konsep utamanya cukup sederhana: memanfaatkan suhu laut yang relatif stabil sebagai sistem pendingin alami.
Air laut membantu menyerap panas yang dihasilkan server sehingga kebutuhan pendinginan mekanis dapat ditekan secara signifikan. Dengan metode ini, konsumsi listrik untuk sistem pendingin turun drastis dibandingkan pusat data konvensional.
Selain itu, fasilitas ini juga terhubung dengan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai yang berada di dekat lokasi. Kombinasi pendinginan alami dan energi terbarukan membuat operasional data center menjadi jauh lebih efisien.
Kapasitas Besar untuk Era AI
Pusat data bawah laut ini memiliki kapasitas yang direncanakan mencapai 24 megawatt, setara dengan kebutuhan listrik puluhan ribu rumah tangga.
Fasilitas tersebut dirancang untuk menangani berbagai kebutuhan komputasi modern, mulai dari pemrosesan AI, analisis big data, layanan 5G, hingga pengembangan model bahasa besar yang membutuhkan daya komputasi tinggi. Beberapa laporan menyebut fasilitas ini mampu menampung sekitar 2.000 server dalam modul-modul khusus yang dirancang untuk lingkungan bawah laut.
Keberadaan infrastruktur seperti ini menjadi sangat penting karena perkembangan AI saat ini menuntut kapasitas komputasi yang terus bertambah dari tahun ke tahun.
Lebih Hemat Energi dan Ramah Lingkungan
Salah satu alasan utama proyek ini mendapat perhatian dunia adalah efisiensi energinya.
Pengembang menyebut penggunaan kombinasi energi angin dan pendinginan laut mampu mengurangi konsumsi energi lebih dari 20 persen dibandingkan pusat data darat dengan kapasitas serupa. Sebagian besar kebutuhan listrik fasilitas ini juga berasal dari sumber energi hijau.
Selain penghematan listrik, manfaat lainnya meliputi:
- Mengurangi penggunaan lahan hingga lebih dari 90 persen.
- Tidak membutuhkan pasokan air tawar dalam jumlah besar untuk pendinginan.
- Menurunkan emisi karbon dari operasional pusat data.
- Mengurangi tekanan terhadap jaringan listrik daratan.
Di saat banyak negara mulai khawatir dengan dampak lingkungan dari ledakan AI, pendekatan seperti ini menawarkan alternatif yang cukup menarik.
Bukan Ide Baru, Tetapi China yang Pertama Mengomersialkannya
Sebenarnya gagasan menempatkan server di bawah laut bukan hal baru.
Beberapa tahun lalu, Microsoft pernah melakukan eksperimen melalui proyek bernama Project Natick di perairan Skotlandia. Hasilnya menunjukkan bahwa server bawah laut memiliki tingkat kegagalan perangkat yang lebih rendah dibandingkan pusat data konvensional.
Namun proyek tersebut masih berada pada tahap uji coba dan tidak berkembang menjadi layanan komersial berskala besar. China menjadi negara pertama yang berhasil membawa konsep ini ke tahap operasional yang lebih luas dengan dukungan industri, teknologi maritim, dan kebijakan pemerintah.
Tantangan yang Masih Harus Dihadapi
Meski terlihat menjanjikan, data center bawah laut bukan tanpa risiko.
Lingkungan laut terkenal keras terhadap perangkat elektronik. Korosi akibat air asin, ketahanan kabel bawah laut, serta kesulitan melakukan perawatan menjadi tantangan besar yang harus diatasi.
Berbeda dengan pusat data darat yang dapat diperbaiki dalam hitungan menit, perbaikan fasilitas bawah laut memerlukan prosedur yang jauh lebih kompleks dan biaya yang lebih tinggi. Karena itu, sistem harus dirancang dengan tingkat keandalan yang sangat tinggi sejak awal.
Selain itu, para peneliti juga terus memantau dampak lingkungan yang mungkin muncul, seperti perubahan suhu lokal di sekitar lokasi operasional. Meski sejauh ini dampaknya dinilai dapat dikendalikan, pemantauan jangka panjang tetap diperlukan.
Apa Dampaknya bagi Masa Depan Infrastruktur Digital?
Langkah China ini menunjukkan bahwa masa depan pusat data kemungkinan tidak lagi hanya berada di daratan.
Dengan kebutuhan AI yang terus berkembang, perusahaan teknologi di seluruh dunia sedang mencari cara untuk mengurangi konsumsi listrik tanpa mengorbankan performa. Konsep pusat data bawah laut yang ditenagai energi terbarukan bisa menjadi salah satu solusi yang semakin banyak diadopsi dalam beberapa tahun ke depan.
Jika model ini terbukti berhasil secara ekonomi dan operasional, bukan tidak mungkin negara-negara lain akan mengikuti pendekatan serupa untuk membangun infrastruktur digital generasi berikutnya.
Kesimpulan
Pusat data bawah laut bertenaga angin yang dibangun China menjadi salah satu inovasi paling menarik dalam dunia teknologi tahun ini. Dengan memanfaatkan energi terbarukan dan pendinginan alami dari laut, fasilitas tersebut mampu mengurangi konsumsi energi sekaligus mendukung kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat.
Meski masih menghadapi sejumlah tantangan teknis, proyek ini menunjukkan bagaimana inovasi infrastruktur dapat menjadi kunci dalam menghadapi ledakan kebutuhan data dan kecerdasan buatan di masa depan. Bukan sekadar membangun pusat data yang lebih besar, tetapi juga lebih efisien dan berkelanjutan.

























