Fakultas Biologi (Fk-Biologi ) Universitas Medan Area (UMA) melatih siswa-siswi sekolah menengah atas (SMA) dan madrasah aliyah (MA) cara-cara membuat kompos dan oshibana.
Pelatihan itu digelar di Convention Hall Kampus I UMA Jalan Kolam, Medan Estate, Sabtu (10/2) yang diikuti ratusan siswa dari Kota Medan, Binjai dan Langkat.
Wakil Rektor III UMA Ir Zulheri Noer MP dalam sambutannya saat membuka pelatihan itu mengapresiasi (Fk-Bilogi ) UMA yang sangat peduli persoalan lingkungan. Sebab sampah atau limbah yang tak dikelola dengan baik akan menjadi bencana.
“Pelatihan ini bukan hanya berupaya menyelamatkan lingkungan, tapi juga memberikan keterampilan kepada generasi bangsa untuk mengolah barang yang tak berguna menjadi bernilai ekonomi,” ujar Zulheri
Dekan (Fk-Bilogi ) UMA Dr Mufti Sudibyo MSi mengatakan, pelatihan mengolah sampah menjadi kompos tersebut agar kepedulian pengelolaan limbah tak hanya di lingkungan perguruan tingggi, tapi sampai ke seluruh sekolah yang ada di Sumut.
Dalam pelatihan ini, katanya, fokus pada pengolahan limbah padat menjadi kompos. Pengelolaan diakuinya sudah sangat umum, namun menjadi berbeda karena yang menjadi narasumber seorang tokoh peduli lingkungan, yakni dr Tengku Kemala Intan MPd Mbiomed, konsultan Institute for Global Environmental Strategies (IGES) Jepang.
Selain pelatihan pembuatan kompos, kata Mufti, para siswa juga diberikan keterampilan oshibana, yakni merangkai bunga atau tanaman herbal yang sudah rontok/mati, kemudian diawetkan dalam herbarium. Lalu ditempelkan sebagi bros untuk dijual ke pasar.
“Bunga mawar yang rontok itu misalnya bisa diawetkan lalu diolah menjadi bros. Ini punya nilai jual yang tinggi karena unik dan cantik,” katanya seraya menyebutkan pihaknya akan mengusulkan hak paten untuk produksi oshibana ini.
Bank sampah
Sebelum memaparkan cara mengolah sampah menjadi kompos, Tengku Kemala Intan terlebih dahulu menguraikan betapa pentingnya bank sampah. Jumlah bank sampah di Kota Medan baru 83 unit, dan bila digabung dengan Provinsi Sumut baru 123 bank sampah.
“Padahal, manfaat berdirinya bank sampah akan membantu mereduksi jumlah sampah perkotaan dibuang ke TPA. Sehingga apabila bank sampah berada di setiap lingkungan dan kecamatan, maka tidak diperlukan lagi tempat pembuangan sampah secara terbuka,” kata dosen USU dan Ketua Green Bridge ini.
Sampah yang tidak dapat dikendalikan, tambahnya, dalam proses pembusukannya akan menimbulkan gas karbon dan metan (SLCP) yang akan berdampak terhadap perubahan iklim dan peningkatan temperatur bumi.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan (Fk-Bilogi) UMA Abdul Karim SSi MSi didampingi Kabag Humas UMA Ir Asmah Indrawati MP mengatakan, berdasarkan hasil survei, penduduk Indonesia didominasi usia 15-25 tahun. Sedangkan setiap orang penduduk Indonesia menghasilkan 0,5-0,8 kg sampah per hari.
“Maka pelatihan ini sangat penting, karena usia remaja yang paling banyak menghasilkan sampah,” katanya
(tr/sp)

























