Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Medan Area (UMA) bekerja sama dengan Pusat Karier dan Kewirausahaan (PKK) UMA menyelenggarakan “Workshop Persiapan Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) 2018” di Kampus 2 UMA, Jalan Sei Serayu Medan, Sabtu pekan lalu
Kegiatan bertajuk “Being a Great Studentpreneur” (Menjadi Wirausaha yang Hebat) itu menghadirkan narasumber Kak Djojo, Ketua PKK UMA Ahmad Prayudi SE MM, pemenang KBMI 2017 Anggun Cintami TBN, dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FEB UMA Ir Yamin Siregar MM,
Rektor UMA Prof Dr Dadan Ramdan MEng MSc dalam sambutannya saat membuka acara itu berharap, kegiatan tersebut dapat menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa yang inovatif berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sesuai dengan visi-misi UMA, yakni mencetak lulusan yang inovatif, berkepribadian dan mandiri.
“KBMI merupakan program Dikti yang dimulai sejak 2017. KBMI dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas mahasiswa berwirausaha dan bertambahnya unit bisnis mahasiswa yang berkelanjutan,” katanya.
Sebelumnya, Ketua PKK UMA Ahmad Prayudi mengharapkan, workshop ini akan meningkatkan proposal bisnis mahasiswa yang ikut KBMI dan lulus untuk didanai Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti).
Pada 2017, katanya proposal KBMI UMA yang didanai oleh Dikti sebanyak lima tim dengan total pendanaan Rp60 juta. “Kita harapkan pada 2018 lebih banyak proposal yang mendapatkan dana hibah Dikti,” kata Prayudi.
Adapun lima proposal KBMI yang lulus dan didanai Dikti pada 2017 terdiri dari dua tipe kelompok usaha, yaitu industri kreatif sebanyak tiga proposal (yaitu Kieu Collection, Kaos Printing, dan Bioshima) dan dua proposal dari kelompok kuliner, yakni NUSA dan Bola Baper.
“Kieu Collection yang termasuk dalam kelompok industri kreatif adalah proposal dengan pendanaan terbesar yaitu Rp20 juta. Sedangkan empat proposal lainnya masing-masing didanai Rp10 juta,” kata Prayudi.
Anggun Cintami salah satu pemenang KBMI 2017 dalam paparannya mengatakan, Kieu Collection yang dikelolanya merupakan produk tas kulit sintetis. Model-model tas ini sangat digemari oleh konsumen asal Aceh, sehingga pasar terbesarnya adalah Aceh.
Selain model tas, Anggun mengaku sangat memperhatikan kualitas bahan-bahan yang digunakan untuk menjaga kualitas produk dan kepuasan konsumen. “Dalam sebulan saya mendapatkan keuntungan sekitar Rp3-4 juta,” katanya.

























