infoUMA -Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Medan Area (UMA) mendaur ulang sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) sejenis minyak tanah.
Kegiatan itu didemonstrasikan aktivis Mapala UMA saat peringatan Hari Bumi se-dunia, Rabu (22/4) sore di Kampus I UMA Jalan Kolam Medan Estate.
Hasrul Karim alias Kupang dari Divisi Pendidikan dan Latihan (Diklat) Mapala UMA mengatakan, proses pengolahan tersebut dilakukan melalui empat tahapan, yakni pengumpulan sampah kering, pembakaran, penyulingan dan hasil.
"Awalnya itu kita mengumpulkan sampah-sampah kering berupa plastik dan botol minuman bekas, lalu dijadikan satu di kaleng cat berukuran 25 kilogram hingga sampah itu padat,” kata Hasrul didampingi Ketua Mapala UMA Zulfahmi Harahap, pengurus M Fahrizal T dan aktivis Mapala UMA lainnya.
Dijelaskan Hasrul, setelah sampah plastik terkumpul kemudian dilakukan pembakaran selama 30 menit. Kaleng cat ini dimodifikasi dengan pipa besi sekitar satu meter yang berfungsi sebagai penyuling, lalu dihubungkan dengan kaleng susu berukuran satu kilogram yang diisi air sebagai pendingin.
"Jadi selama 30 menit sampah itu terbakar. Sampah itu menjadi uap. Uap itulah yang berubah menjadi cairan berupa bahan bakar yang berguna untuk memasak pengganti minyak tanah, bisa juga untuk obor. Hasil daur ulang ini selalu kami bawa saat melakukan kegiatan Mapala seperti camping di hutan," kata Mahasiswa Teknik Mesin UMA ini.
Untuk satu kilogram sampah plastik, tambahnya, bisa menghasilkan tujuh ons minyak. Hanya saja setelah dingin, bentuk minyak berubah menjadi seperti sabun colek.
Inovasi
Inovasi ini, katanya, didapat Mapala UMA dari informasi teman aktivis Lingkungan Conservasi Mentality (Come) yang menyebutkan sampah kering bisa dijadikan bahan bakar. Seterusnya dilakukan penelitian dan berbagai ujicoba.
“Berdasarkan informasi itu, lalu kami coba penelitian itu di tahun 2013 lalu, dan hasilnya seperti ini, namun kami belum lakukan pengembangan lagi atas bahan bakar ini. Kami juga belum tahu bahan bakar ini berjenis apa,” kata Hasrul.
Dia berharap, inovasi pengolahan bahan plastik ini dapat dikembangkan lagi, bahkan lebih banyak masyarakat yang mengolah sampah menjadi barang yang bermanfaat, sehingga sampah plastik tersebut tidak terbuang dan mencemari lingkungan.
Wakil Rektor III UMA, Ir Zulhery Noer mengapresiasi inovasi Mapala UMA itu. Dia berharap, inovasi tersebut ke depan dapat dikembangkan dan disempurkan lagi.
Zulhery mengaku terkejut, Mapala UMA bisa menghasilkan bahan bakar alternatif. “Kami berharap, inovasi Mapala UMA bisa menjadi perhatian bagi pengusaha agar bermanfaat bagi masyarakat luas,” kata Zulhery didampingi Humas UMA Ir Asmah Indrawaty MP

























