Mengapa_Opini_Lebih_Dipercaya_daripada_Fakta.webp

Mengapa Opini Lebih Dipercaya daripada Fakta?

06 Jun 2026 - 28 View
Share

Pernahkah Anda melihat seseorang tetap mempertahankan pendapatnya meskipun sudah ditunjukkan data dan bukti yang jelas? Fenomena semacam ini semakin sering terlihat, terutama di media sosial. Tidak jarang sebuah opini yang emosional justru lebih cepat dipercaya dan dibagikan dibandingkan informasi yang berbasis fakta.

Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi?

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar soal kurangnya informasi. Justru, ada faktor psikologis, sosial, hingga cara kerja media digital yang membuat opini sering kali terasa lebih meyakinkan daripada fakta.

Fenomena Post-Truth dan Perubahan Cara Orang Menerima Informasi

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti sering menggunakan istilah post-truth. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika emosi, keyakinan pribadi, dan identitas kelompok memiliki pengaruh lebih besar terhadap opini publik dibandingkan fakta objektif.

Di Indonesia, gejala ini terlihat cukup jelas. Survei BBC Media Action menemukan bahwa masyarakat Indonesia cenderung lebih mempercayai informasi yang berasal dari sesama warga dibandingkan akademisi, jurnalis, atau pakar. Sebanyak 44% responden menyatakan paling percaya pada informasi dari masyarakat umum, sementara tingkat kepercayaan terhadap akademisi hanya sekitar 30%. Penelitian yang sama juga menemukan rendahnya kebiasaan memverifikasi informasi sebelum membagikannya.

Kondisi ini menciptakan lingkungan yang memungkinkan opini berkembang lebih cepat daripada fakta.

Fakta Tidak Selalu Menang Melawan Emosi

Salah satu alasan utama adalah cara kerja otak manusia.

Ketika menerima informasi, manusia tidak selalu berpikir secara rasional. Banyak keputusan dibuat berdasarkan emosi terlebih dahulu, kemudian dicari pembenarannya setelah itu.

Penelitian tentang confirmation bias menjelaskan bahwa seseorang cenderung menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan menolak informasi yang bertentangan. Dalam lingkungan digital yang dipenuhi algoritma media sosial, kecenderungan ini semakin kuat karena pengguna lebih sering melihat konten yang sejalan dengan pandangan mereka.

Akibatnya, fakta sering kalah bukan karena kurang kuat, tetapi karena tidak sesuai dengan apa yang ingin dipercaya seseorang.

Pengaruh Media Sosial dan Echo Chamber

Media sosial memberikan ruang yang sangat besar bagi penyebaran opini.

Jika dahulu informasi harus melewati proses verifikasi oleh media atau lembaga tertentu, kini siapa pun bisa menjadi sumber informasi. Sebuah unggahan yang menarik secara emosional dapat memperoleh ribuan bahkan jutaan interaksi hanya dalam hitungan jam.

Fenomena ini dikenal sebagai echo chamber, yaitu situasi ketika seseorang hanya berinteraksi dengan kelompok yang memiliki pandangan serupa. Dalam kondisi tersebut, opini yang terus diulang akan terasa seperti fakta karena didengar berkali-kali dari berbagai orang yang memiliki pandangan sama.

Semakin sering sebuah narasi muncul di linimasa, semakin besar kemungkinan orang mempercayainya tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Rendahnya Literasi Digital Masih Menjadi Tantangan

Penelitian mengenai literasi digital di Indonesia menunjukkan bahwa banyak pengguna internet masih kesulitan membedakan sumber informasi yang kredibel dengan yang tidak kredibel.

Sebuah studi terhadap mahasiswa Indonesia menemukan bahwa kepercayaan terhadap informasi sering kali dibangun berdasarkan popularitas, viralitas, kedekatan emosional, atau siapa yang membagikannya, bukan berdasarkan validitas sumbernya. Bahkan sebagian responden menganggap suatu informasi benar karena banyak orang mempercayainya.

Fenomena ini menjelaskan mengapa informasi yang viral sering dianggap lebih benar dibandingkan hasil penelitian atau laporan resmi yang mungkin kurang menarik secara visual.

Kepercayaan kepada Orang Dekat Lebih Tinggi daripada Ahli

Secara sosial, manusia memang lebih mudah mempercayai orang yang dianggap dekat.

Informasi yang datang dari keluarga, teman, tokoh komunitas, atau figur yang disukai sering kali diterima tanpa banyak pertanyaan. Sebaliknya, informasi dari pakar atau institusi kadang dianggap jauh, rumit, atau bahkan dicurigai memiliki kepentingan tertentu.

Penelitian BBC Media Action menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi terhadap sesama warga dibandingkan kelompok ahli maupun jurnalis.

Di sinilah opini memperoleh keuntungan besar. Sebuah opini yang disampaikan oleh orang yang dipercaya sering kali memiliki pengaruh lebih kuat daripada fakta yang datang dari sumber resmi.

Polarisasi dan Identitas Kelompok

Penelitian tentang disinformasi dalam konteks politik Indonesia menemukan bahwa afiliasi kelompok atau partisanship memiliki pengaruh besar terhadap kepercayaan seseorang terhadap informasi. Orang cenderung mempercayai informasi yang menguntungkan kelompoknya dan meragukan informasi yang merugikan kelompok tersebut, meskipun faktanya sama.

Dalam situasi seperti ini, yang dipertahankan bukan lagi kebenaran informasi, melainkan identitas kelompok.

Karena itu, perdebatan di media sosial sering kali tidak berakhir pada pencarian fakta, melainkan pada upaya mempertahankan posisi masing-masing.

Opini Lebih Mudah Dipahami daripada Data

Faktor lain yang sering diabaikan adalah cara penyampaian informasi.

Fakta biasanya hadir dalam bentuk angka, data, grafik, atau penjelasan yang membutuhkan waktu untuk dipahami. Sementara itu, opini sering disampaikan dalam bentuk cerita sederhana yang mudah dicerna.

Misalnya, sebuah penelitian ilmiah mungkin membutuhkan beberapa halaman untuk menjelaskan suatu fenomena. Sebaliknya, sebuah opini bisa merangkum masalah yang sama dalam satu kalimat emosional yang langsung menyentuh perasaan pembaca.

Dalam persaingan memperebutkan perhatian publik, opini sering kali lebih unggul karena lebih sederhana dan lebih cepat dipahami.

Apakah Orang Indonesia Saja yang Mengalami Fenomena Ini?

Tidak.

Fenomena lebih percayanya sebagian masyarakat terhadap opini dibanding fakta terjadi hampir di seluruh dunia. Namun, kombinasi antara tingginya penggunaan media sosial, rendahnya kebiasaan verifikasi informasi, serta kuatnya pengaruh kelompok sosial membuat fenomena tersebut terlihat lebih menonjol di Indonesia.

Menariknya, penelitian global yang melibatkan lebih dari 194 ribu partisipan dari berbagai negara menunjukkan bahwa manusia sebenarnya masih mampu membedakan berita benar dan berita palsu. Tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat lebih mau menerima fakta yang bertentangan dengan keyakinan mereka.

Dampak bagi Masyarakat

Jika opini terus mengalahkan fakta, dampaknya bisa sangat luas:

  • Penyebaran hoaks menjadi semakin cepat.
  • Polarisasi sosial semakin tajam.
  • Kepercayaan terhadap institusi ilmiah menurun.
  • Pengambilan keputusan publik menjadi kurang rasional.
  • Diskusi publik lebih banyak dipenuhi emosi daripada solusi.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas demokrasi, pendidikan, hingga pembangunan sosial.

Kesimpulan

Fenomena orang Indonesia yang lebih percaya opini daripada fakta bukanlah masalah sederhana. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyebabnya meliputi confirmation bias, rendahnya literasi digital, pengaruh media sosial, kepercayaan yang tinggi terhadap kelompok terdekat, serta kecenderungan manusia untuk mengutamakan emosi dibanding data.

Fakta sebenarnya masih memiliki kekuatan. Namun, di tengah banjir informasi yang datang setiap detik, fakta harus bersaing dengan opini yang lebih sederhana, lebih emosional, dan lebih mudah diterima.

Karena itu, kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan memverifikasi informasi menjadi semakin penting. Di era informasi seperti sekarang, pertanyaan yang perlu dibiasakan bukan lagi "Apakah saya setuju dengan informasi ini?", melainkan "Apakah informasi ini benar?" sebelum mempercayai atau membagikannya.

artikel

© 2026 PDAI - Universitas Medan Area Facebook UMA | Universitas terbaik menerapkan kampus digital dengan mendukung program kampus merdeka menjadi PTS favorit di sumut. Instagram UMA | Universitas terbaik menerapkan kampus digital dengan mendukung program kampus merdeka menjadi PTS favorit di sumut. Youtube UMA | Universitas terbaik menerapkan kampus digital dengan mendukung program kampus merdeka menjadi PTS favorit di sumut.